Skip to content
Asiadailies
Asiadailies

Daily update from Asia

  • Indonesia
  • Malaysia
  • Phillipines
  • Singapore
  • Thailand
  • Vietnam
  • Australia
Asiadailies

Daily update from Asia

Properti Tanpa Aset: Cara Ferry Reviandy Menyulap Ruang Kosong Jadi Mesin Uang

Properti Tanpa Aset: Cara Ferry Reviandy Menyulap Ruang Kosong Jadi Mesin Uang

Tim Editor, 14/07/202512/08/2026

Ketika mayoritas orang mulai menarik diri dari dunia properti karena dianggap terlalu mahal, terlalu rumit, dan minim hasil, Ferry Reviandy justru melangkah masuk—bukan dengan cara konvensional, tapi dengan pendekatan yang jauh lebih ringan: tanpa memiliki aset, tanpa membangun dari nol, dan tanpa utang bank.
Ferry tidak mencari tanah. Ia mencari celah.

Dari Mimpi Pasif Income ke Realita Tekor Setiap Bulan

Di tahun 2011, Ferry adalah karyawan biasa dengan impian yang sangat umum: punya kos-kosan. Di bayangannya, properti itu akan memberinya penghasilan pasif tiap bulan tanpa perlu dijaga, dikelola, apalagi dipusingkan.

Namun kenyataannya? Jauh dari itu.

Setelah berhasil membeli satu unit dengan bantuan KPR, Ferry mulai menyewakannya. Tapi pemasukan dari penyewa justru habis untuk bayar cicilan, listrik, air, perbaikan, dan kebutuhan lain yang muncul silih berganti. Alih-alih untung, Ferry hanya mencicipi margin tipis yang tidak cukup untuk berkembang.

Dari Kepemilikan ke Kemitraan

Lelah dengan model yang hanya berjalan di tempat, Ferry bertanya: Apakah harus punya properti sendiri untuk dapat penghasilan dari properti?

Di situlah titik balik dimulai.

Alih-alih membeli lebih banyak aset, ia mulai berpikir untuk memanfaatkan aset milik orang lain—dengan sistem bagi hasil. Ia menawarkan skema kerja sama kepada para pemilik ruko atau bangunan kosong yang tidak terpakai. Yang ia tawarkan bukan hanya penyewa, tapi manajemen profesional dan arus kas rutin.

Setelah banyak penolakan dan berbulan-bulan tanpa hasil, satu pemilik setuju. Dan dari situlah sistem bisnis baru lahir.

Satu Meja, Banyak Uang

Ferry tidak lagi menyewakan kamar per bulan. Ia menyewakan meja per jam.

Working space yang ia kelola bisa menampung banyak penyewa dalam sehari. Ruang yang sebelumnya kosong jadi sibuk, produktif, dan menghasilkan. Pemilik properti senang karena bangunannya tidak terbengkalai, Ferry pun dapat keuntungan tanpa utang.

Modelnya simpel: pemilik properti siapkan tempat dan sedikit renovasi, Ferry kelola operasional. Profit dibagi sesuai kesepakatan.

Dalam waktu singkat, model ini terbukti lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan kos-kosan tradisional.

Pandemi Jadi Ujian, Bukan Akhir

Ketika pandemi melanda dan properti-properti konvensional lumpuh, bisnis Ferry justru tetap berjalan. Memang ada penurunan, tapi tidak drastis. Mengapa?

Karena klien working space-nya adalah para pelaku bisnis yang tetap butuh tempat kerja. Fleksibilitas sistem harian dan mingguan membuat ruang kerja bersama tetap relevan bahkan di tengah krisis.

“Bukan cuma ruang, yang saya tawarkan adalah sistem kerja yang bisa diakses siapa saja tanpa beban kepemilikan,” ujar Ferry.

Membangun Bisnis Properti Tanpa Properti

Kini Ferry mengelola tiga brand working space di beberapa kota besar. Ia juga aktif mengembangkan sistem kemitraan dan pelatihan bisnis agar siapa pun bisa memulai bisnis properti tanpa harus memiliki properti.

Sistemnya bisa diikuti oleh karyawan, ibu rumah tangga, atau siapa pun yang ingin berbisnis properti tapi tidak punya modal besar. Dengan pendekatan kemitraan dan sistem arus kas, Ferry mengubah properti dari beban jadi peluang.

Properti Bukan Mati, Hanya Butuh Cara Baru

Di mata Ferry, properti bukan soal punya atau tidak. Tapi soal bagaimana cara menghasilkan dari properti itu.

“Banyak orang stuck karena mikir harus punya dulu baru bisa jalan. Padahal kalau kita mau berpikir lebih fleksibel, ada banyak jalan lain,” ujarnya.

Sementara banyak orang sibuk mencari modal besar, Ferry sibuk membangun sistem. Dan dari situlah semua mulai berubah.

Indonesia

Post navigation

Previous post
Next post

Recent Posts

  • Sanct meets 78 visitors at Tech in Asia Conference 2026 and opens talks with mental health and social enterprise communities
  • How to Cash Out Your Pawn Tickets (Surat Pajak) Safely in Kuala Lumpur
  • Prodia Hadirkan ‘Advanced Lipid Profile’, Pemeriksaan Risiko Kardiovaskular yang Lebih Komprehensif dan Personal
  • Casino Plus Becomes First-Ever Winner of IAG’s Best Live Dealer Offering Award
  • 5 Hal yang Membuat Kamu Sulit Membayar Cicilan

Recent Comments

  1. Norvin Tinambacan on Carziqo Expands Autonomous Delivery Operations With A-DS Series Rollout in Phoenix
  2. Karma Focken on BRI Branch Office Otista dan BRINS Serahkan Simbolis Klaim Asuransi kepada Nasabah Terdampak Kebakaran
  3. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • January 2024
  • December 2023

Categories

  • Australia
  • Indonesia
  • Malaysia
  • Phillipines
  • Singapore
  • Thailand
  • Uncategorized
  • Vietnam
©2026 Asiadailies | WordPress Theme by SuperbThemes