Rp27,56 Juta Menjadi Rp68,45 Juta
PT Pertamina Patra Niaga melalui Program Community Involvement & Development (CID) Kampung Bahari Si Pelaut di Kampung Tua Terih, Batam, mencatat lonjakan pendapatan yang signifikan. Melalui pendampingan pengolahan hasil laut, pendapatan kelompok nelayan dan UMKM perempuan meningkat dari Rp27,56 juta menjadi Rp68,45 juta, atau rata-rata sekitar 40 persen per anggota. Program ini melibatkan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Poklahsar Sukses Bersama yang mengembangkan budidaya kakap, bawal, kerapu, aquaponik, rehabilitasi mangrove, serta pengolahan hasil perikanan menjadi berbagai produk usaha.
Pupuk Organik Cair dari Limbah Ikan di Cilacap
Di Kampung Sentolo Kawat, Cilacap, perempuan nelayan mendapatkan pelatihan pengolahan pangan dan pemanfaatan limbah ikan untuk mendukung ekonomi keluarga. Kegiatan yang digelar Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada 31 Juli 2026 ini memperkenalkan cara mengolah limbah ikan yang berpotensi mencemari lingkungan menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang bermanfaat dan bernilai guna. Dr. Endar Puspawiningtyas dari Program Studi Teknik Kimia UMP menjelaskan bahwa diversifikasi makanan dan pengolahan limbah ikan memiliki keterkaitan dalam pengembangan keterampilan perempuan nelayan: pengolahan pangan diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi bahan lokal, sedangkan pemanfaatan limbah menjadi POC mengurangi beban pencemaran di kawasan pesisir.
Penguatan Mental Sebelum Keterampilan
Anggota Tim Pengabdian UMP, Itsna Nurrahma Mildaeni, menekankan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan. Penguatan mental dan kepercayaan diri juga diperlukan agar peserta mampu mengembangkan potensi yang dimiliki. Kegiatan diawali dengan pelatihan peningkatan kesadaran dan penguatan mental, di mana peserta diajak mengenali potensi diri dan sumber daya di lingkungan sekitar serta melihat peluang yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
GISLI di Gunungkidul: Keselamatan dan Pemberdayaan Ekonomi
Di Gunungkidul, program GISLI yang berlangsung pada 29–30 September 2026 menggabungkan penguatan kecakapan nelayan, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan perempuan pesisir. Untuk kelompok perempuan nelayan, program dikemas secara interaktif melalui kombinasi edukasi keselamatan dan pemberdayaan ekonomi. Pendekatan ini mengakui bahwa perempuan pesisir sering kali menjadi penopang ekonomi keluarga ketika suami melaut, sehingga keterampilan produktif mereka menjadi kunci ketahanan rumah tangga.
Sudut Pandang: Ekonomi Biru yang Inklusif Dimulai dari Dapur
Selama ini, narasi ekonomi biru didominasi oleh kapal besar, investasi miliaran rupiah, dan teknologi canggih. Padahal, transformasi paling mendasar terjadi di dapur-dapur rumah pesisir, di mana perempuan mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah. Jika program seperti Kampung Bahari Si Pelaut dan pelatihan UMP direplikasi secara luas—dengan akses pembiayaan, pemasaran digital, dan pendampingan berkelanjutan—perempuan pesisir bukan lagi penerima manfaat pasif, melainkan penggerak utama ekonomi biru di tingkat akar rumput.