Skip to content
Asiadailies
Asiadailies

Daily update from Asia

  • Indonesia
  • Malaysia
  • Phillipines
  • Singapore
  • Thailand
  • Vietnam
  • Australia
Asiadailies

Daily update from Asia

Film “Nia” kisah dari desa kecil di Sumatera, menggugah nurani seluruh Negeri.

Film “Nia” kisah dari desa kecil di Sumatera, menggugah nurani seluruh Negeri.

Tim Editor, 25/11/202512/08/2026

Jakarta;  Suasana haru dan kehangatan memenuhi
Epicentrum XXI Jakarta pada Gala Premier film
“Nia Kurnia Sari
”, Senin malam, 24
November 2025.
Film yang diangkat dari kisah tragis nyata di Kabupaten
Padang Pariaman ini resmi diputar perdana, disambut antusias oleh jajaran
pemain, tim produksi, tokoh perfilman nasional, serta ratusan tamu undangan.

Diproduksi oleh  PH 786
Production
bekerja sama dengan PT. Smaradana Pro, film ini semakin
memikat perhatian publik karena keberanian mengangkat realitas pedesaan di daerah Padang
Pariaman. Dengan sentuhan emosional yang kuat,
film hasil garapan Aditya Gumay dan Ronny Mepet ini berhasil menampilkan
tragedi yang tidak hanya menyayat, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang
kemanusiaan.

Film ini mengangkat kehidupan Nia Kurnia Sari
(diperankan oleh Syakira Humaira),
seorang remaja 18 tahun yang menjual gorengan untuk menghidupi ibunya, Eli
(Helsi Herlinda), yang mengidap penyakit tiroid, serta dua saudara tirinya.

Dalam kesederhanaan dan ketaatannya, Nia
selalu menjadi sosok yang ceria dan pekerja keras. Namun takdir pahit
menimpanya ketika ia menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh Andri (Qya Ditra), seorang pengangguran
dan pecandu Narkoba. Pencarian
intensif selama tiga hari melibatkan warga, polisi, dan sosok Makwo yang diperankan begitu kuat oleh Neno Warisman.

Keberadaan Neno Warisman sebagai Makwo menjadi
salah satu kekuatan emosional film ini. Dengan ekspresi keibuan dan energi
spiritualnya, Neno menghadirkan karakter yang menjadi pelita di tengah
kegelapan tragedi. Ia menggambarkan sosok Makwo sebagai penggerak harapan,
pemimpin pencarian, sekaligus suara nurani masyarakat.

Kehadiran Neno
membuat film ini semakin hidup dan bermakna bagi penonton.

Tidak hanya
akting yang menyentuh, film “Nia Kurnia Sari” juga diperkuat oleh musik yang
digarap oleh Adam S. Permana, yang selalu bermitra dengan Smaradana pro dalam
setiap produksi film garapan Aditya Gumay. Komposer ini dikenal mampu menyatukan
keindahan musik dengan kedalaman emosi. Melalui sentuhan musiknya, Adam
menghadirkan atmosfer pedesaan yang otentik, kepedihan keluarga, hingga harapan
yang bersinar melalui setiap adegan menjadikan
pengalaman menonton semakin menghanyutkan.

sumber foto:istimewa

Film Nia akan resmi tayang serentak pada  4
Desember 2025, di bioskop seluruh Indonesia.

Film ini lolos dengan kategori 13+
dari LSF, film ini menyajikan edukasi tentang kerentanan perempuan, tekanan
sosial-ekonomi, dan pentingnya solidaritas antarwarga.

Tantangan
Para Pemain dalam Menghidupkan Kisah Nyata Para pemain kompak menegaskan bahwa
mengangkat kisah nyata bukan pekerjaan ringan. Pendalaman karakter menjadi
peran kunci keberhasilan film ini.

Syakira Humaira, pemeran utama sebagai Nia, mengaku harus menjalani pendalaman
intens:

“Saya belajar langsung ke warga
Minang—bahasa, gestur, cara kerja, sampai interaksi sehari-hari. Tantangannya
besar karena ini tokoh nyata dan kisahnya sangat menyentuh,” ungkapnya.

Qya Ditra, pemeran Andri, menyebut peran antagonis ini sebagai yang paling
berat dalam kariernya:

“Saya harus memahami pola pikir pecandu dan pelaku tindakan
negatif. Itu sangat menguras emosi.”

Helsi Herlinda, pemeran ibu Nia, mengaku proses syuting berlangsung sangat
emosional:

“Selama syuting saya memilih tidak bicara
dengan Ditra. Saya harus benar-benar membenci karakternya untuk mendalami peran
seorang ibu yang kehilangan anak.”

Aktor senior Zainal Chaniago bahkan menyebut film ini sebagai
karya paling membekas dalam 35 tahun perjalanan kariernya—menandakan betapa
kuatnya dampak emosional film ini bagi seluruh pemain.

Tim produksi
berharap film ini dapat menjadi cermin sosial bagi masyarakat Indonesia.

Film ini
tidak sekadar menggambarkan tragedi; ia menyoroti kerentanan perempuan, tekanan
ekonomi, keterbatasan aparat di daerah, hingga pentingnya solidaritas warga.

Pesan yang
ingin disampaikan jelas: Perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tugas
negara, tetapi tanggung jawab bersama.(Red)

Indonesia

Post navigation

Previous post
Next post

Recent Posts

  • จากไอดอลสู่ First Face: โมเมนต์แฟชั่นของ Dylan เพิ่งเริ่มต้นเท่านั้น
  • DO LONG เปิดบทใหม่ของแฟชั่นเจ้าสาว กับ The Prime บนเวที Vietnam Wedding Week 2026
  • Luu Viet Anh ถ่ายทอดความทรงจำทางวัฒนธรรม สู่เรื่องราวแฟชั่นเจ้าสาวร่วมสมัยบนเวที Vietnam Wedding Week 2026
  • 3 มุมมองเติมเต็ม “The Love City” วันที่สองของ Vietnam Wedding Week 2026 กับเสน่ห์ ความเท่ของแฟชั่นบุรุษ และความโรแมนติกในแบบของตัวเอง
  • 4 ดีไซเนอร์ 4 โลกแห่งความสร้างสรรค์ เปิดวันแรกของ Vietnam Wedding Week 2026

Recent Comments

  1. Karma Focken on BRI Branch Office Otista dan BRINS Serahkan Simbolis Klaim Asuransi kepada Nasabah Terdampak Kebakaran
  2. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • January 2024
  • December 2023

Categories

  • Australia
  • Indonesia
  • Malaysia
  • Phillipines
  • Singapore
  • Thailand
  • Uncategorized
  • Vietnam
©2026 Asiadailies | WordPress Theme by SuperbThemes