Masalah Lama dalam Kemasan Baru
Mengelola pasokan beras nasional Indonesia tetap menjadi tugas yang kompleks. Fragmentasi data dan keterbatasan transparansi sering mengakibatkan inefisiensi—dari produksi dan distribusi hingga konsumsi. Tantangan ini diperparah oleh faktor eksternal seperti variabilitas iklim, fluktuasi pasar, dan kesenjangan infrastruktur yang bersama-sama mengancam keandalan dan keberlanjutan beras sebagai makanan pokok.11
BERASKU: Model Sistem Informasi Digital untuk Rantai Pasok Beras
Sebuah studi yang diterbitkan pada 2026 memperkenalkan BERASKU, model sistem informasi digital yang dirancang untuk memperkuat visibilitas, traceability, dan keberlanjutan dalam rantai pasok beras Indonesia. Penelitian yang dilakukan di beberapa pusat produksi beras di Jawa Barat ini mengidentifikasi masalah inti, termasuk peristiwa cuaca ekstrem, distribusi harga yang tidak merata, dan infrastruktur pendukung yang tidak memadai.
Partisipasi Aktif dan Pengambilan Keputusan Berbasis Bukti
Temuan studi menyoroti urgensi sistem yang tidak hanya mengonsolidasikan data tetapi juga mendukung pengambilan keputusan yang responsif dan berbasis bukti. Yang lebih penting, sistem ini mendorong partisipasi aktif dari pelaku lokal, memastikan bahwa proses pengambilan keputusan bersifat inklusif dan berpijak pada realitas lapangan. Model ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan menghubungkan inovasi digital dengan praktik rantai pasok berkelanjutan, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Aksi Iklim).
Digitalisasi Koperasi Desa: Kunci Kesejahteraan Petani
Di tingkat kebijakan, Kementerian Komunikasi dan Digital menempatkan digitalisasi koperasi desa sebagai langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan membuat petani dan koperasi desa mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, menjaga kualitas hasil panen, hingga memperluas akses pasar. Model tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai jual produk pertanian sekaligus memperkuat rantai pasok pangan.
AI untuk Pertanian: Dari Bibit hingga Otomatisasi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital mengemukakan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pengaturan penanaman bibit, mendeteksi hama dan penyakit tanaman, memaksimalkan produktivitas lahan, serta melakukan otomatisasi.13 Integrasi AI dengan sistem informasi seperti BERASKU membuka peluang bagi terciptanya rantai pasok yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi lapangan.