
JAKARTA, 30 Januari 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mengakselerasi penyediaan air bersih di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menteri PU, Dody Hanggodo, menginstruksikan agar pembangunan 86 unit sumur bor di wilayah tersebut dapat diselesaikan sebelum bulan Ramadan.
Menteri Dody menegaskan bahwa ketersediaan air bersih merupakan
prioritas utama dalam masa pemulihan pascabencana. Instruksi percepatan ini
ditujukan langsung kepada Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air dan
Ditjen Cipta Karya.
“Targetnya sebelum bulan Ramadan, kita sudah bisa
menyelesaikan sumur-sumur bor ini,” tegas Menteri Dody.
Hingga 27 Januari 2026, tercatat sebanyak 86 unit sumur bor tengah
dikerjakan di wilayah Sumatera. Pembangunan ini difokuskan untuk memulihkan
layanan air bersih pada fasilitas publik dan kawasan hunian terdampak. Lokasi
pembangunan tersebar di titik strategis meliputi masjid, pasar, puskesmas,
rumah sakit, perkantoran, dan sekolah.
Sebaran pembangunan sumur bor meliputi 67 unit di Provinsi Aceh
dan 19 unit di Provinsi Sumatera Barat. Sementara itu, penanganan di Provinsi
Sumatera Utara difokuskan pada dukungan optimalisasi sistem air minum yang ada.
Terdapat dua jenis sumur yang dibangun oleh Kementerian PU, yakni
sumur bor air dalam dan sumur bor dangkal. Keduanya dibangun sesuai fungsi
spesifik kebutuhan masyarakat.
“Kami melakukan beberapa pemboran sumur dalam dan sumur
dangkal. Sumur dalam ini adalah untuk sumur-sumur yang lebih dari 80 meter dan
berkualitas air premium yang bisa untuk diminum,” ujar Menteri Dody.
“Sedangkan sumur-sumur dangkal dengan kualitas air yang di
bawah air minum, namun bisa dipakai untuk mandi dan cuci, dan biasanya
digunakan untuk pembersihan lumpur pascabencana,” tambah Menteri Dody.
Secara teknis, sumur bor air dalam dibangun dengan kedalaman
rata-rata sekitar 100 meter dan diameter lebih dari 4 inci. Sumur ini dirancang
menggunakan metode pemboran teknis yang dilengkapi uji logging dan pumping
test untuk mengambil air tanah dari akuifer terkekang maupun
semiterkekang, dengan debit air lebih dari 2 liter per detik.
Untuk menjamin keberlanjutan sumber air, penentuan kedalaman sumur
didasarkan pada survei geolistrik. Setiap unit juga dilengkapi fasilitas
pendukung berupa pompa submersible, rumah tenaga listrik, reservoar
atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum.
Terkait kualitas, air dari sumur bor ini telah memenuhi standar
parameter utama, yakni pH sekitar 7,1, kadar besi di bawah 1 mg/l, serta
tingkat kekeruhan di bawah 1.000 mg/l. Standar ini memastikan air baku aman
untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat dan operasional fasilitas pelayanan
publik.
Mengenai progres konstruksi dari total 86 titik, penyelesaian
sumur bor air dalam saat ini telah mencapai sekitar 15%, sedangkan sumur bor
dangkal mencatatkan progres yang lebih cepat, yakni mencapai 53%.
Pembangunan infrastruktur ini juga berfungsi sebagai sistem
pendukung agar 176 unit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak
bencana dapat kembali berfungsi optimal. Penegasan yang disampaikan Menteri
Dody merupakan wujud komitmen Kementerian PU dalam upaya build back
better (membangun kembali dengan lebih baik) pada daerah yang
terdampak bencana di wilayah Sumatera.
Program kerja
ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam
menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES